Digital Clock and Date

LAGU

27 May 2015

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله وكفى والصلاة والسلام على النبي المصطفى محمد ابن عبد الله وعلى آله وصحبه أجمعين 


7 KEISTIMEWAAN BULAN SYA'BAN

Setelah Bulan Rajab, akan datang bulan Sya'ban. Bulan Sya'ban juga termasuk salah satu bulan yang diagungkan dalam Islam. Pada malam Nisfu Sya'ban, Allah SWT turun ke langit dunia dan memberi syafaat (bantuan) bagi siapa saja yang meminta pada malam itu hingga terbit Fajar.

Rasulullah SAW pernah bersabda,

"Jika terjadi malam nisfu Sya'ban, maka shalatlah kamu sekalian pada malam harinya, dan puasalah kamu sekalian pada siang harinya kerana sesungguhnya Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi turun pada malam tersebut ke langit dunia mulai dari terbenam matahari dan berfirman:

"Apakah tidak ada orang yang meminta ampun, sehingga Aku mengampuninya?
Apakah tidak ada orang yang meminta rezeki, sehingga Aku memberinya rezeki?
Apakah tidak ada orang yang terkena bala, sehingga Aku dapat menyelamatkannya?

Apakah tidak demikian, apakah tidak demikian, sehingga terbit fajar."


Diantara keistimewaan ibadah pada bulan Sya'ban yang agung adalah sebagai berikut.

7 KEISTIMEWAAN PUASA BULAN SYA'BAN:

1.    Menurut Imam Nawawi, pada hari nisfu Sya'ban (hari ke lima belas) tahun kedua Hijriyah, telah berlaku pertukaran kiblat umat Islam iaitu dari Masjid Al-Aqsa ke Kab'bah di Masjid Al-Haram.

2.    Telah terjadi peperangan Bani Mustalik pada tahun kelima Hijrah. Kemenangan berpihak kepada Islam dan terjadinya perang Badar yang terakhir pada tahun keempat Hijrah.

3.    Bulan Sya'ban merupakan bulan dimana amal-amal kita diangkat untuk dihadapkan kepada Tuhan.

Hal ini berdasarkan hadith riwayat An Nasai dan Abu Dawud dan ditashih oleh Ibnu Huzaimah dari Usamah bin Zaid, katanya,

"Aku berkata, Wahai Rasulullah, aku tidak melihat tuan berpuasa dari satu bulan dari beberapa bulan seperti puasa tuan di Bulan Sya'ban."

Beliau menjawab, "Itu adalah bulan yang dilupakan oleh manusia antara bulan Rajab dan Ramadan. Bulan Sya'ban itu bulan amal-amal diangkat ke hadapan Tuhan semesta alam. Oleh karena itu, aku senang apabila amalku diangkat, sedangkan aku berpuasa."

4.    Bulan Membaca Al-Qur'an.

Diriwayarkan dari Anas ra, berkata:

"Adalah orang-orang muslim apabila masuk bulan Sya'ban, mereka membuka mushaf-mushaf Al Qur'an dan membacanya, mengeluarkan zakat dari harta mereka untuk memberi kekuatan kepada orang-orang yang lemah dan orang-orang miskin untuk melakukan puasa Ramadan."

Berkata Salamah bin Suhail,

"Telah dikatakan bahwa bulan Sya'ban itu merupakan bulannya para qurra' (pembaca Al Qur'an)."

Dan adalah Habib bin Abi Tsabit apabila masuk bulan Sya'ban dia berkata:

"Inilah bulannya para qurra'."

Dari 'Amr bin Qais Al-Mula'i apabila masuk bulan Sya'ban dia menutup tokonya dan meluangkan waktu (khusus) untuk membaca Al-Qur'an."

5.    Bulannya Rasulullah SAW.

Hal ini berdasarkan sabda baginda yang berbunyi:

"Bulan Rajab itu adalah bulan Allah, bulan Sya'ban adalah bulanku dan bulan Ramadan adalah bulannya umatku."

Rasulullah SAW pada setiap setiap malam tanggal 15 Sya'ban selalu melakukan solat malam dengan sangat lama, menunaikan kewajiban bersyukur kepada Allah SWT, sehingga Al-Hafidh Al-Baihaqi dalam kitab Musnadnya meriwayatkan hadith dari A'isyah ra katanya:

"Rasulullah SAW pada suatu malam bangun, lalu melakukan shalat. Beliau memperlama sujud, sehingga aku mengira beliau telah wafat. Setelah aku melihat yang demikian itu, aku bangun sehingga menggerakkan ibu jari beliau, dan ibu jari beliau bergerak."

6.    Pada setiap malam nisfu Sya'ban, Rasulullah SAW selalu mendoakan umatnya baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Dalam hal ini, Sayyidina Ali ra menceritakan sebagai berikut:

"Susungguhnya Rasulullah SAW keluar pada malam ini (malam nisfu sya'ban) ke Baqi' (kuburan dekat masjid Nabawi) dan aku mendapatkan beliau dalam keadaan memintaan ampun bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dan para syuhada."

Banyak hadith-hadith yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnad beliau, Imam At-Tirmidzi At-Thabrani, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Al Baihaqi dan An Nasai, yang menetapkan bahwa Rasulullah SAW adalah memuliakan malam Nisfu Sya'ban dengan memperbanyak shalat, doa dan istighfar.

Jadi, bukanlah perbuatan bid'ah dan bukan pula perbuatan aneh jika malam nisfu Sya'ban dijadikan malam untuk banyak berzikir, berdoa dan istighfar dan melakukan shalat bagi kaum muslimin.

7.    Bulan turunnya Allah SWT ke muka bumi.

Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Jika terjadi malam nisfu Sya'ban, maka shalatlah kamu sekalian pada malam harinya, dan puasalah kamu sekalian pada siang harinya. Karena sesungguhnya Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi turun pada malam tersebut ke langit dunia mulai dari terbenam matahari dan berfirman:

"Apakah tidak ada orang yang meminta ampun, sehingga Aku mengampuninya? Apakah tidak ada orang yang meminta rezeki, sehingga Aku memberinya rezeki? Apakah tidak ada orang yang terkena bala, sehingga Aku dapat menyelamatkannya? Apakah tidak demikian, apakah tidak demikian, sehingga terbit fajar."

Imam Al-Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya'ban sebagai malam yang penuh syafaat (pertolongan).

Menurut Al Ghazali, pada malam ke 13 di bulan Sya'ban, Allah SWT memberikan tiga syafaat kepada hamba-hambanya.

Sedangkan pada malan ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh.

Subhanallah...

Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karena pada malam ke 15 bylan Sya'ban inilah catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dianikkan ke hadapan Allah SWT.

والله أعلم بالصواب، وإليه المرجع والمآب، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آل محمد وصحبه وسلم


31 Jul 2013

AYAT-AYAT PENYEMBUH

Ayat-ayat syifa ini dikenali sebagai ayat penyembuh penyakit. Macam mana dapatnya ayat-ayat syifa ini?

Syeikh Imam Abilqasim Al-Qusyairi menerangkan; suatu ketika anaknya sakit sehingga beliau berputus asa mencari penawarnya. Pada suatu hari, beliau bermimpi bertemu Rasulullah S.A.W, lalu bertanyakan ubat bagi penyakit anaknya itu.

Rasulullah S.A.W berkata: “Apakah engkau tidak mengetahui ayat-ayat syifa?”. Tatkala itu, Syeikh Imam Abilqasim bangun dari tidur & dibukanya Al-Quran. Memang terdapat 6 ayat-ayat syifa & beliau segera menulisnya di atas kertas, kemudian dilunturkan ke dalam air.

Air itu diberinya minum kepada anaknya yang sedang sakit. Tidak lama kemudian, penyakit anaknya beransur sembuh.

surah yunus
Surah Yunus – ayat 57 :  
                                                                                                            
Ertinya: Wahai umat manusia! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Al-Quran yang menjadi nasihat pengajaran dari Tuhan kamu, dan yang menjadi penawar bagi penyakit-penyakit batin yang ada di dalam dada kamu, dan juga menjadi hidayah petunjuk untuk keselamatan, serta membawa rahmat bagi orang-orang yang beriman.


surah an-nahl
Surah An Nahl – ayat 69 :

Ertinya: Kemudian makanlah dari segala jenis bunga-bungaan dan buah-buahan (yang engkau sukai), serta turutlah jalan-jalan peraturan Tuhanmu yang diilhamkan dan dimudahkannya kepadamu”. (Dengan itu) akan keluarlah dari dalam badannya minuman (madu) yang berlainan warnanya, yang mengandungi penawar bagi manusia (dari berbagai-bagai penyakit). Sesungguhnya pada yang demikian itu, ada tanda (yang membuktikan kemurahan Allah) bagi orang-orang yang mahu berfikir.

surah al-isra'a
Surah Al Isra’a – ayat 82 :

Ertinya: Dan Kami turunkan dengan beransur-ansur dari Al-Quran Ayat-ayat Suci yang menjadi ubat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman kepadanya; dan (sebaliknya) Al-Quran tidak menambahkan orang-orang yang zalim (disebabkan keingkaran mereka) melainkan kerugian jua


surah asy-syu'araa'
Surah Asy Syu’araa’ – ayat 80 :

Ertinya: “Dan apabila aku sakit, maka Dia lah yang menyembuhkan penyakitku;


surah fussilat
Surah Fussilat – ayat 44 :

Ertinya : Dan kalaulah Al-Quran itu Kami jadikan (bacaan) dalam bahasa asing, tentulah mereka akan berkata: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya (dalam bahasa yang kami fahami)? Patutkah Kitab itu berbahasa asing sedang Rasul yang membawanya berbangsa Arab?” Katakanlah (wahai Muhammad): “Al-Quran itu, menjadi (cahaya) petunjuk serta penawar bagi orang-orang yang beriman; dan sebaliknya orang-orang yang tidak beriman, (AL-Quran itu) menjadi sebagai satu penyakit yang menyumbat telinga mereka (bukan penawar); dan ia juga merupakan gelap-gelita yang menimpa (pandangan) mereka (bukan cahaya yang menerangi). Mereka itu – (dengan perbuatan melarikan diri dari ajaran Al-Quran, tidak ubahnya seperti) orang-orang yang diseru dari tempat yang jauh (masakan mereka dapat mendengar dengan betul atau melihat dengan nyata)”.

surah at-taubah
Surah At Taubah – ayat 14 :

Ertinya: Perangilah mereka, nescaya Allah akan menyeksa mereka dengan (perantaraan) tangan kamu, dan Allah akan menghinakan mereka serta menolong kamu menewaskan mereka, dan Ia akan memuaskan hati orang-orang yang beriman.

Jikalau anak meragam atau kembung perut, baca ayat-ayat syifa ini & hembuskan ke dalam air. Kemudian, bagi mereka minum & sapukan pada muka serta badan mereka sambil membaca Ya Syafi (Yang Maha Menyembuh) sebanyak boleh. InsyaAllah, anak akan menjadi tenang.

Semua penyakit yang Allah jadikan di dunia ini ada penawarnya didalam Al-Quran.

17 Jul 2013


::.. RENUNGAN RAMADHAN ..:::

Seorang mufti Besar Arab Saudi menangis teresak-esak setelah menerima soalan melalui telefon dalam sebuah rancangan tv live.

Panggilan tersebut datang daripada seorang saudara islam dari Somalia dengan bertanya:

"Adakah PUASA saya (dan kami) sah dan diterima Allah SWT sedangkan saya (kami) tidak dapat bersahur atau berbuka?"

Saudara kita di Somalia tiada apa-apa untuk bersahur dan berbuka sedang kita enak menjamu selera dan aman damai. 
fikir-fikirkanlah buat renungan semua...

12 Jan 2012

ADAB MEMOTONG KUKU

Perlu diketahui bahawa memotong kuku adalah amalan sunat.

Walaupun tidak ada hadis sahih berkenaan persoalan mengerat kuku dan boleh mengerat kuku tanpa mengikut hari-hari tertentu. Tetapi, pada hari Isnin, Khamis dan Jumaat adalah hari yang diutamakan untuk melakukan ibadat sunat. Oleh yang demikian, sunat memotong kuku pada hari-hari tersebut.

Jadi, kerat kuku bukan sebarang kerat tapi ada kaedahnya. Walaupun ia hanya kuku tapi ia adalah sebahagian dari badan kita yang perlu kita hormati. Misalnya, kerat kuku ada adabnya selain ikut hari, kita juga perlu buang kuku itu pada tempat yang tidak kotor sebagaimana yang diajar, eloklah buang ke tanah kerana kita juga adalah unsur tanah, Bukannya tong sampah sekalipun tong sampah tu bersih.

Mulakan kerat kuku tu mulai dengan Bismillah dan selawat Nabi dan potong start jari telunjuk sebelah kanan sampai habis tangan kanan, kemudian jari kelingking sebelah kiri sampai ibu jari tangan kiri dan Last sekali ibu jari tangan kanan.

Kalau kaki pula, mulakan dengan jari kelingking kaki kanan sampai kelingking kaki kiri. Itulah sunnah yang paling kuat dipegang selama ini walaupun ada banyak khilafnya.

MENURUT SEBUAH KITAB JAWA (Primbon)

Janganlah memotong kuku pada hari Sabtu, kerana akan mendatangkan halangan atau rintangan bagi anda.

Janganlah memotong kuku pada hari Ahad, kerana akan mendapat bencana,

Janganlah memotong kuku pada hari Isnin, kerana akan ada orang yang dengki atau irihati,

Potonglah kuku pada hari Selasa kerana akan disukai orang banyak.

Potonglah kuku pada hari Rabu kerana akan membawa keselamatan dan perlindungan dari Tuhan.

Potonglah kuku pada hari Khamis dan anda akan mendapat rezeki.

Potonglah kuku pada hari Jumaat kerana akan membuat anda disukai dan dicintai orang.

SEELOK-ELOKNYA POTONGLAH KUKU PADA HARI KHAMIS ATAU JUMAAT

Ada juga golongan yang mempertikaikan riwayat-riwayat di atas. Apapun secara amnya sunat memotong kuku pada hari Isnin, Khamis dan Jumaat. Ada juga riwayat mengatakan siapa potong kuku setiap hari Rabu miskinlah ia. (Kesahihannya wallahua’lam). Seboleh-bolehnya elakkan dari mengekalkan memotong kuku pada hari Rabu (sekali-sekala tidak apa). Ini kerana isteri nabi iaitu Siti Khadijah pernah bertanya bagaimanakah caranya untuk menghabiskan harta beliau yang banyak. Maka jawab Nabi s.a.w. potonglah kuku pada setiap hari Rabu.

Nabi juga pernah berkata, jangan panjangkan kuku kerana syaitan berlari di atas kuku yang panjang. Begitu juga misai yang melebihi bibir mulut.

Kaedah yang paling mudah ialah:-

KUKU TANGAN

1. Mulai dari Jari Telunjuk tangan kanan.
2. Jari Tengah tangan kanan
3. Jari Manis tangan kanan
4. Jari Kelingking tangan kanan (Tinggalkan Ibu Jari tangan kanan)
5. Jari Kelingking tangan kiri
6. Jari Manis tangan kiri
7. Jari Tengah tangan kiri
8. Jari Telunjuk tangan kiri
9. Ibu Jari tangan kiri
10. Ibu Jari tangan kanan

Mula dari kanan, penghabisan juga sebelah kanan.

KUKU KAKI - Mula dari kanan, penghabisan sebelah kiri iaitu kelingking kiri. Mulai dari Kelingking Kanan dan bergerak ke jari-jari lain di sebelah kiri jari kelingking kanan .

HUKUM, HIKMAT POTONG KUKU

Kuku yang dicipta oleh Allah swt mempunyai peranan dan kepentingannya kepada manusia. Dalam Islam, kuku berperanan dalam beberapa hukum yang tidak seharusnya diabaikan oleh umat Islam. Walaupun dilihat seolah-olah perkara kecil, kadang-kadang ia menjadi perkara besar. Contohnya ketika seseorang masih dalam ihram haji atau umrah didenda membayar dam kerana memotong kuku. Demikian juga kuku boleh menyebabkan tidak sah wuduk atau mandi junub, jika air tidak atau terhalang sampai ke kuku.

Hukum dan Hikmat Memotong Kuku

Memotong kuku termasuk dalam amalan sunat. Hal ini disebut dalam hadis iaitu daripada Saidatina Aisyah yang maksudnya “Sepuluh perkara yang dikira sebagai fitrah (sunnah) iaitu memotong misai, memelihara janggut, bersugi, memasukkan air ke dalam hidung, memotong kuku, membasuh sendi-sendi, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu ari-ari, bersuci dengan air (beristinjak). Berkata Zakaria “Aku lupa yang ke-10 kecuali berkumur” (riwayat Muslim)

Memotong kuku adalah sunat bagi lelaki dan perempuan sama ada kuku kaki atau tangan. Adapun hikmat daripada pensyariatan memotong kuku adalah menghilangkan kekotoran yang melekat atau berkumpul di celahnya. Kotoran itu jika tidak dibersihkan akan dan boleh menghalang air ketika bersuci. Selain itu, jika kuku dibiarkan panjang segala kekotoran atau najis akan terlekat padanya dan nescaya ia menjejaskan kesihatan.

Cara dan benda untuk memotong kuku.

Sunat memotong kuku bermula daripada tangan kanan, kemudian tangan kiri, memotong kuku kaki kanan,kemudian kaki kiri. Menurut Imam Nawawi, sunat memotong kuku bermula dari jari tangan kanan keseluruhannya dari jari telunjuk hingga ke jari kelingking dan diikuti ibu jari. Kemudian tangan kiri bermula dari jari kelingking hingga ibu jari. Sementara kuku kaki pula bermula dari kaki kanan daripada jari kelingking hingga ibu jari. Kemudian kaki kiri daripada ibu jari hingga kelingking.

Harus seseorang memotong menggunakan gunting, pisau atau benda khas seperti alat pemotong kuku supaya tidak memudaratkan kuku atau jarinya. Selesai memotong kuku segeralah membasuh tangan dengan air. Ada riwayat mengatakan bahawa makruh memotong kuku dengan menggunakan gigi kerana boleh mewarisi penyakit kusta.

Waktu Memotong Kuku

Islam juga mengambil kira waktu memotong kuku yang tidak tertakluk kepada panjang kuku tersebut. Kuku harus dipotong pada bila-bila masa. Walau bagaimanapun, jangan membiarkan kuku tidak dipotong melebihi 40 hari. Hal ini diriwayatkan daripada Anas bin Malik yang bermaksud “Sudah ditentukan waktu bagi kami memotong misai, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu ari-ari agar kami tidak membiarkannya lebih daripada 40 malam”. (riwayat Muslim)

Menurut Imam Syafie dan ulamaknya, sunat memotong kuku sebelum mengerjakan solat Jumaat seperti disunatkan mandi, bersugi, berharuman, berpakaian kemas sebelum ke masjid.

Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri dan Abu Hurairah katanya, Rasulullah saw bersabda yang bermaksud “Sesiapa yang mandi pada hari Jumaat, bersugi, berwangian jika memilikinya dan memakai pakaian yang terbaik, kemudian keluar rumah hingga sampai ke masjid, dia tidak melangkahi orang yang bersaf, kemudian mengerjakan solat sunat, dia diam ketika imam keluar (berkhutbah) dan tidak berkata apa-apa hinga selesai solat, maka jadilah penebus dosa antara Jumaat itu dengan Jumaat sebelumnya” (Riwayat Ahmad).

Daripada Abu Hurairah maksudnya “Nabi saw memotong kuku dan menggunting misai pada hari Jumaat sebelum baginda keluar untuk solat” (Riwayat al-Bazzar dan al-Tabrani).

Sementara itu, menurut Ibnu Hajar, sunat memotong kuku pada Khamis, pagi Jumaat atau Isnin.

Menanam Potongan Kuku

Islam sangat prihatin terhadap memuliakan anak Adam, termasuklah anggota badanya. Kuku yang dipotong, sunat ditanam dalam tanah sebagai tanda hormat kerana ia adalah anggota manusia.

Memotong Kuku Ketika Haid, Nifas dan Junub

Kitab al-Ihya’ ada menyatakan bahawa jika seseorang dalam keadaan junub atau berhadas besar, jangan memotong rambut, kuku atau mengeluarkan darah atau memotong sesuatu yang jelas daripada badannya sebelum mandi junub. Ini kerana potongan itu akan kembali kepadanya dengan keadaan junub.

Memanjangkan Kuku

Tabiat memanjangkan kuku bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw yang menggalakkan supaya memotong kuku. Jika dibiarkan kuku panjang, nescaya banyak perkara yang membabitkan hukum seperti wuduk, mandi wajib dan sebagainya. Selain itu, antara perkara sunat dilakukan kepada orang sakit atau nazak adalah mengelokkan diri iaitu dengan memotong kuku, misai, mencabut bulu ketiak, cukur bulu ari-ari, bersugi, mandi, berwangian dan memakai pakaian bersih.

Imam Syafie tidak menyatakan dalam kitabnya sunat memotong kuku mayat, tetapi beliau menyatakan perselisihan pendapat antara gurunya dalam menggalakkan dan meninggalkan perbuatan memotong kuku mayat. Beliau memilih dan mentarjih pendapat untuk meninggalkan perbuatan memotong kuku mayat.

Pendapat yang betul adalah membiarkan kuku mayat kerana segala anggota mayat itu dimuliakan dan tiada hadis sahih yang menggalakkan memotong kuku mayat. Malah makruh hukumnya jika berbuat demikian. Demikian juga pendapat ibnu Hajar, pendapat yang azhar adalah makruh memotong kuku mayat.

Adapun orang yang meninggal ketika dalam ihram haji atau umrah, haram dipotong kuku mayat itu, seperti haram mewangikan tubuh badan dan memotong rambutnya. Ini diibaratkan keadaannya masih hidup, dengan haram di atasnya memotong kuku ketika masih hidup, dengan haram potong kuku ketika ihram. Namun jika kuku mayat itu menyukarkan tukang mandi untuk membersihkannya, tidak mengapa jika dipotong dan tidak juga dikenakan dam ke atas orang yang memotong kuku itu.

al-Ustaz Abdullah Zuqail menyebut beberapa perkara yang tidak ada dalil tentang memotong kuku, antaranya :

- Mengkhususkan hari Jumaat untuk memotong kuku.
- Makruh memotong kuku pada malam hari.
- Orang yang sedang berpuasa tidak boleh memotong kuku.
- Larangan orang yang sedang haid dan janabah dari memotong kuku.
- Memotong kuku dengan cara-cara tertentu.

Berkata Ibn Daqiq al-’Ied : “Apa yang tersebar tentang memotong kuku dalam cara-cara tertentu, tidak ada asal baginya di dalam syariat. Adapun memulakannya dengan tangan kanan kemudian tangan kiri, maka ianya termasuk di dalam keumuman sabda Nabi s.a.w. …”

Dr. Abdul Wahab pula berkata :

“Memotong kuku HARUS pada bila-bila masa dan tidak mengapa.”

Disebutkan di dalam syarah al-‘Iqna’ Matan Abi Syuja’ ( 1/60 ), menurut Imam al-Ghazzali di dalam Ihya Ulumiddin, bahawa tidak seharusnya seseorang yang berjunub memotong kuku atau mencukur bulu dan rambutnya kerana semua tadi akan dikembalikan di hari akhirat nanti dalam keadaan junub ( tidak bersih) .

Bagaimanapun, setelah diteliti asas kepada pendapat ini, maka tiada didapati sebarang dalil yang menyokongnya kecuali logik aqal semata-mata tadi. Demikian menurut Syeikh Sayyid Sabiq, Syeikh Atiyyah Saqar dan Dr. Rif`at Fawzi, professor Syariah di Univ. Kaherah

Soalan ini pernah di tujukan kepada Imam Ibn Taymiah di dalam kitabnya “Ghiza’ al-albab, 1/382 ) maka beliau menjawab : “ Tidak aku ketahui hukum makruh membuang rambut dan bulu dan kuku ketika junub, bahkan Nabi SAW bersabda : “ Sesungguhnya seorang mukmin tidak najis (tubuhnya) samada hidup ataupun mati”, malah Nabi memberitahu : “ buangkan darimu bulu-bulu kufur (yang tidak dicukur semasa kafir) dan berkhatanlah (apabila masuk Islam) “ maka arahan Nabi tidak menunjukkan sebarang tangguh cukur selepas mandi. Demikian juga diperintah wanita haid agar menyikat rambutnya semasa mandi junub, yang mana diketahui bahawa dengan menyikat ini boleh menggugurkan rambut (sebelum tamat mandi)..justeru apa yang dikatakan sebenarnya tiada asalnya.”

Tiada sebarang halangan untuk memotong kuku secara junub. Pandangan ini juga datang dari tokoh ulama Tabien iaitu Ato’ bin Abi Rabah. ’Ata disebut pernah menyatakan seseorang boleh melakukannya dalam keadaan junub, malah dalam keadaan junub dan tidak berwudu’ (Riwayat al-Bukhari)

Sebagai makumat tambahan, kemestian menanam rambut, kuku yang dipotong dan sebagainya juga tiada sebarang dalil (kecuali 
jika dibimbangi akan diambil dan disihirkan), demikian juga 
larangan memotong kuku di waktu malam.